Pulang Upacara, Saya Malah Kepikiran Soal Merdeka

noxp
0

Tadi pagi saya ikut upacara 17 Agustus. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Lapangan cukup panas, orang-orang berdiri dalam barisan, beberapa anak mulai kelihatan tidak nyaman karena berdiri menghadap matahari, sementara sebagian orang dewasa mencari posisi yang tidak terlalu langsung terkena matahari. Upacaranya sendiri berjalan seperti upacara 17 Agustus pada umumnya, pengibaran bendera, Indonesia Raya, pembacaan proklamasi, dan seterusnya.


Setelah itu orang-orang mulai bubar. Ada yang sibuk mengambil foto sebelum suasananya benar-benar selesai dan perlombaan dimulai. Saya sendiri entah kenapa, justru mulai memikirkan satu hal yang sebenarnya sudah terlalu sering kita dengar setiap bulan Agustus, Indonesia sudah merdeka selama 81 tahun.

Angka itu cukup besar kalau dipikir-pikir. Delapan puluh satu tahun berarti sudah beberapa generasi yang lahir dan tumbuh di negara yang tidak pernah mereka kenal sebagai negara jajahan. Bagi saya dan mungkin banyak orang yang hidup sekarang, kemerdekaan bukan pengalaman yang pernah kita lihat sendiri. Kita mengenalnya dari buku sejarah, cerita guru, film, upacara, dan teks yang dibacakan setiap 17 Agustus.


Karena itu saya mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya arti angka 81 tahun itu bagi orang yang hidup sekarang?

Kalau pertanyaannya hanya apakah Indonesia sudah merdeka dari penjajahan, tentu jawabannya jelas. Kita sudah merdeka. Proklamasi sudah dibacakan pada 1945 dan sejak saat itu Indonesia menjalani kehidupannya sebagai negara sendiri.

Tetapi setelah selesai dari upacara tadi, saya merasa pertanyaan tentang kemerdekaan tidak harus berhenti di sana. Sebab negara bisa saja sudah merdeka, sementara kehidupan orang-orang di dalamnya masih sangat berbeda. Ada orang yang punya pekerjaan tetap dan cukup nyaman dengan kehidupannya, tetapi ada juga yang setiap bulan harus menghitung pengeluaran supaya uangnya tidak habis sebelum gajian berikutnya. Ada yang sudah punya ijazah tetapi belum mendapat pekerjaan, ada yang bekerja dari pagi sampai sore tetapi penghasilannya tetap pas-pasan, dan ada pula yang sebenarnya punya sesuatu untuk disampaikan tetapi memilih diam karena tidak ingin berurusan dengan akibatnya.

Saya tidak sedang mengatakan Indonesia gagal. Saya juga tidak sedang mencari alasan untuk membenci pemerintah atau negara. Saya hanya merasa bahwa setelah 81 tahun, kita seharusnya sudah bisa membicarakan kemerdekaan dengan pertanyaan yang sedikit lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Beberapa waktu belakangan saya juga sering mendengar pembicaraan tentang ekonomi dan berbagai program pemerintah. Ada pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan, lapangan pekerjaan, MBG, KDMP, dan masih banyak istilah lain yang kadang muncul begitu saja di berita lalu beberapa hari kemudian digantikan oleh istilah baru.

Saya tidak terlalu pandai membaca angka ekonomi. Kalau ada yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, investasi sekian triliun, atau anggaran naik sekian persen, saya biasanya hanya menangkap gambaran besarnya. Saya tahu angka-angka itu penting dan pemerintah memang tidak mungkin membuat kebijakan hanya berdasarkan perasaan.

Tapi kehidupan sehari-hari juga punya cara sendiri untuk menunjukkan keadaan ekonomi, dan caranya jauh lebih sederhana. Kita bisa melihat harga barang di pasar, biaya sekolah anak, tagihan listrik, ongkos perjalanan, harga bahan bakar, atau sekadar membuka dompet setelah semua kebutuhan dibayar.


Dompet mungkin bukan alat ukur ekonomi yang resmi, tetapi cukup jujur untuk urusan pribadi. Kalau uang masih tersisa setelah membayar kebutuhan, kita merasa cukup aman. Kalau tanggal gajian masih lama tetapi uang sudah mulai tipis, kita biasanya tidak membutuhkan penjelasan dari siapa pun untuk tahu bahwa bulan itu akan sedikit lebih sulit.

Itu sebabnya saya kadang merasa ada jarak antara angka ekonomi yang kita dengar dengan keadaan yang dirasakan sebagian orang. Bukan berarti angka tersebut salah. Ekonomi bisa saja tumbuh dan pada saat yang sama ada orang yang tetap merasa hidupnya berat. Keduanya tidak bertentangan.

Orang yang sedang kesulitan membayar kebutuhan rumah tangga tentu tidak akan merasa lebih tenang hanya karena diberi tahu bahwa ekonomi sedang tumbuh. Dia tetap harus membayar belanja bulanannya dengan uang yang benar-benar ada di tangannya.


Di titik ini saya mulai melihat bahwa persoalan ekonomi sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan kita.

Contohnya bahan bakar. Harga minyak dan subsidi energi mungkin terdengar seperti urusan pemerintah dan angka dalam anggaran, tetapi kita bisa merasakannya ketika mengisi bahan bakar. Orang yang menggunakan kendaraan untuk bekerja tahu berapa banyak uang yang harus disiapkan setiap bulan. Pedagang juga menghitung biaya perjalanan ketika mengambil barang, begitu pula orang yang mengirim barang dari satu tempat ke tempat lain.

Kalau biaya bahan bakar naik, biaya transportasi bisa ikut naik. Biaya pengiriman dan distribusi bisa bertambah. Pedagang mengeluarkan lebih banyak untuk membawa barang, dan pada akhirnya sebagian biaya tersebut bisa masuk ke harga yang dibayar pembeli.

Kita mungkin tidak melihat prosesnya secara langsung. Yang kita lihat hanya harga barang yang perlahan berubah, sementara uang belanja jumlahnya tidak selalu ikut bertambah.

Itulah yang membuat pembicaraan tentang anggaran sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita. Pemerintah bisa membahas subsidi energi di ruang rapat, sementara masyarakat beberapa hari atau beberapa minggu kemudian merasakannya ketika mengisi bahan bakar atau membeli sesuatu di pasar.


Hal yang sama berlaku ketika pemerintah berbicara tentang efisiensi anggaran. Saya tidak menganggap efisiensi sebagai sesuatu yang buruk. Negara memang harus berhati-hati menggunakan uang. Masalahnya, kata yang terdengar cukup bagus di ruang rapat bisa mempunyai arti berbeda bagi orang yang terkena dampaknya.

Kalau sebuah anggaran dikurangi, pemerintah mungkin menyebutnya efisiensi. Orang yang kehilangan fasilitas atau pelayanan mungkin cukup menyebutnya sebagai sesuatu yang sekarang sudah tidak mereka dapatkan lagi. Istilahnya berbeda, tetapi yang dirasakan bisa sama.

Itulah juga alasan saya tidak ingin langsung mengatakan bahwa MBG atau KDMP adalah program yang buruk hanya karena membutuhkan anggaran besar. Tujuannya sendiri cukup mudah dipahami. Anak-anak mendapatkan makanan yang lebih baik tentu hal yang baik, dan upaya memperkuat kegiatan ekonomi desa juga bukan sesuatu yang perlu ditolak begitu saja.

Yang membuat saya lebih tertarik justru bagaimana uang dalam jumlah besar tersebut dikelola.

Apakah benar sampai kepada orang yang dituju? Bagaimana pengadaannya? Siapa yang mengawasi? Apakah hasil yang diterima masyarakat sebanding dengan uang yang dikeluarkan? Kalau terjadi penyimpangan, siapa yang harus bertanggung jawab?

Menurut saya, pertanyaan seperti itu tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk kebencian kepada pemerintah. Kalau seseorang diberi uang dalam jumlah besar untuk menjalankan sebuah pekerjaan, wajar kalau pemilik uang ingin tahu ke mana uang itu pergi dan apa hasilnya.

Dalam hal ini uangnya bukan milik pribadi pejabat atau pengelola program. Ada uang masyarakat di dalamnya, baik dari pajak maupun dari berbagai penerimaan negara yang berasal dari aktivitas ekonomi.


Saya tentu tidak bisa mengatakan bahwa program besar pasti akan dikorupsi. Itu tuduhan yang membutuhkan bukti. Tetapi menganggap bahwa program yang baik pasti akan dikelola dengan sempurna juga bukan cara yang sehat untuk mengawasi uang publik.

Program yang bagus tetap membutuhkan pengawasan. Bahkan mungkin justru lebih membutuhkan pengawasan karena jumlah uang yang dikelola besar dan dampaknya bisa dirasakan oleh banyak orang.


Dari sini pikiran saya kembali lagi ke upacara pagi tadi.

Kami berdiri di lapangan dan mendengarkan pembacaan proklamasi. Ada kalimat-kalimat yang sudah sangat akrab sehingga hampir semua orang mungkin bisa menebaknya bahkan sebelum dibacakan. Setelah selesai, kami pulang dan kembali ke kehidupan masing-masing.

Saya jadi berpikir tentang orang-orang yang hidup di negara merdeka tetapi tetap mempunyai banyak hal yang membatasi hidupnya.

Seseorang mungkin bebas memilih pekerjaan, tetapi kalau pekerjaan yang tersedia sangat sedikit, pilihannya tetap terbatas. Seseorang mungkin bebas berbicara, tetapi kalau dia merasa ada risiko kehilangan pekerjaan atau mendapat masalah setelah menyampaikan pendapat, kebebasan itu tentu tidak terasa sama seperti yang tertulis di atas kertas.

Begitu juga dengan pendidikan dan kesempatan. Dua anak yang sama-sama lahir sebagai warga negara Indonesia bisa tumbuh dengan keadaan yang sangat berbeda. Yang satu mungkin punya banyak pilihan ketika menentukan masa depan, sementara yang lain sejak awal harus memikirkan bagaimana membantu keluarganya.

Secara hukum mereka sama-sama merdeka.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman mereka terhadap kemerdekaan belum tentu sama.

Saya tidak tahu apakah keadaan seperti itu bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa kita belum merdeka. Kalau menggunakan definisi sejarah, tentu saja kita sudah merdeka. Tetapi kalau kemerdekaan juga berarti punya ruang yang cukup untuk menentukan hidup sendiri, saya rasa masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai. Pekerjaan yang tidak akan selesai hanya dengan satu upacara setiap tahun.


Saya tetap menghormati upacara 17 Agustus. Saya juga tidak punya masalah dengan lomba-lomba yang setiap tahun selalu muncul. Bahkan menurut saya, hal-hal kecil seperti itu memang bagian dari kehidupan kita dan tidak perlu dibuat terlalu serius.

Yang membuat saya berpikir justru adalah apa yang terjadi setelah semuanya selesai.

Besok pagi orang-orang akan kembali bekerja. Anak-anak kembali sekolah. Bahan bakar tetap harus dibeli. Harga kebutuhan tetap harus diperhatikan. Pemerintah kembali mengurus anggaran dan menjalankan programnya. Masyarakat kembali berhadapan dengan persoalan masing-masing.

Tidak ada yang berubah hanya karena pagi tadi kita berdiri bersama di lapangan.

Tetapi setidaknya upacara tadi membuat saya mengingat satu hal yang biasanya kita lewatkan karena sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Kita mengucapkannya dengan mudah, tetapi kehidupan di balik kata itu tidak selalu mudah.


Saya tidak punya kesimpulan yang bagus untuk tulisan ini. Saya juga tidak ingin menutupnya dengan kalimat yang terdengar seperti slogan karena sejak awal saya sendiri sedang mempertanyakan slogan itu. Saya hanya pulang dari upacara tadi dengan satu pertanyaan yang sampai sekarang masih ada di kepala.


Indonesia sudah merdeka selama 81 tahun.

Tapi kalau kemerdekaan juga berarti punya kesempatan untuk menjalani hidup dengan layak dan menentukan pilihan sendiri, seberapa jauh kita sudah sampai?



Gambar hanya ilustrasi


Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default